menuntut-ilmu

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Assalamualaikum🙂

Oleh : Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia

Firman Allah SWT. Yang artinya :

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (Q.S. Faathir [35] : 28)

Suatu ketika Imam Syafi’i berkeluh kesah tentang sebuah masalah kepada gurunya, yang sering dipanggil Syaikh Waqi. Imam Syafi’I mengadu bahwa dirinya susah dalam menghafal. Terutama ketika beliau menghafal Al-Qur’an. Syaikh Waqi pun menjawab, “Tinggalkanlah maksiat. Ketahuilah bahwa ilmu itu cahaya dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang gemar bermaksiat”.

Setelah itu Imam Syafi’i merunut (mencari tahu) kenapa beliau lupa hafalan Al-Qur’annya (hafalan Al-Qur’annya terbata-bata), ternyata dikarenakan beliau tanpa sengaja melihat betis seorang wanita bukan muhrim yang tersingkap oleh angin dalam perjalanan beliau ke tempat gurunya.

Siapapun manusia pastilah tidak pernah lepas dari salah dan alpa. Termasuk dalam hal ini, sekelas imam madhzab pun bisa jadi pernah melakukan maksiat. Walaupun itu dilakukan tanpa ada unsur kesengajaan. Namun, sekali lagi siapa pun tidak pernah luput dari kesalahan. Tak mengherankan bila di dalam Al-Qur’an manusia disebut dengan an-nass yang berasal dari kata nasiya-yansa yang bermakna lupa.

Manusia sebagai makhluk Allah SWT., yang paling sempurna diberikan akal. Akal inilah yang membedakannya dengan hewan dan makhluk yang lainnya. Melalui akal manusia  mudah menyerap ilmu. Menurut Imam Ibnu Jauzi, salah satu fungsi akal ialah untuk memahami khitbah dan taklif (perintah dan tugas) dari Allah SWT., melalui cara melakukan transformasi ilmu yang terus-menerus, membebaskan akalnya dari dominasi nafsu, serta memfungsikannya secara tepat, manusia dapat mencapai puncak prestasinya yang secara nilai menempati kedudukan yang paling mulia. Allah SWT., berfirman : “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Q.S. Al-Hujurah [49] : 13).

Al-Qur’an memberikan berbagai gelar mulia dan terhormat kepada orang berilmu yang menggambarkan kemuliaan dan ketinggian kedudukannya di sisi Allah SWT., dan makhluk-Nya. Antara lain sebagai “al-Raasikhun fil ilm” (Q.S. Ali Imran [3] : 7), “Ulul al-Ilmi” (Q.S. Ali Imran [3] : 18), “Ulul al-Bab” (Q.S. Ali Imran [3] : 190), “al-Basir” dan “as-Sami” (Q.S. Hud [11] : 24), “al-A’limun” (Q.S. Ali Imran : 43), “al-Ulama” (Q.S. Fatir : 28), “al-Ahya” (Q.S. Fatir : 35), dan berbagai nama baik serta gelaran mulia lain. Atas dasar itulah para ulama menegaskan menuntut ilmu sebagai usaha mulia yang layak memperoleh balasan mulia pula.

Bencana Maksiat

Selanjutnya, agar ilmu yang dimilikinya dapat mengantarkan posisi puncak di hadapan Allah SWT. Sang penuntut ilmu harus menghiasi dirinya dengan etika. Tegasnya, harus dilaksanakan secara etis, baik dalam menuntut ataupun dalam memanfaatkannya antara lain tidak melakukan maksiat dalam pencarian dan pengamalannya. Sebab kemaksiatan akan berimplikasi sangat tragis terhadap pelakunya.

Disebutkan dalam sebuah riwayat, dari Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW., bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambah titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “al-raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.”(H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Setiap maksiat membuat hati tertutup noda hitam dan lama kelamaan hati tersebut jadi tertutup. Jika hati itu tertutup, apakah mampu ia menerima seberkas cahaya kebenaran? Sungguh sangat tidak mungkin. Inilah yang akan dialami ketika orang gemar bermaksiat, terlebih lagi bagi penuntut ilmu. Sedikit demi sedikit maksiat itu akan menghalanginya dalam menuntut ilmu, karena hatinya sudah tertutup dengan maksiat tersebut.

Imam Mujahid berujar,”Hati itu seperti telapak tangan. Awalnya ia dalam keadaan terbuka dan jika berbuat dosa, maka telapak tangan tersebut akan tergenggam. Jika berbuat dosa, maka jari-jemari perlahan-lahan akan menutup telapak tangan tersebut. Jika ia berbuat dosa lagi, maka jari lainnya akan menutup telapak tangan tadi. Akhirnya seluruh telapak tangan tadi tertutupi oleh jari-jemarinya.

Nasib palling tragis dialami oleh manusia ialah lupa pada eksistensi dirinya sendiri sebagai akibat logis dari sikapnya yang gemar bermaksiat. Maksiat dapat melemahkan hati dari kebaikan. Dan sebaliknya, akan menguatkan kehendak untuk berbuat maksiat yang lain. Maksiat-pun dapat memutuskan keinginan hati untuk bertaubat. Inilah yang menjadikan penyakit hati paling besar, kita tidak bisa mengendalikan hati kita sendiri. Hati kita menjadi liar mengikuti jejak maksiat kemaksiat yang lain. Jika sudah seperti itu, hati kita akan melihat maksiat begitu indah. Tidak ada keberukan sama sekali.

Jika orang sudah terbiasa berbuat maksiat, ia tidak lagi memandang perbuatan itu sebagai sesuatu yang buruk. Tidak ada lagi rasa malu melakukannya. Bahkan, dengan rasa bangga ia menceritakan kepada orang lain dengan detail semua maksiat  yang dilakukannya. Padahal dosa itu demikian besar dimata Allah.

Hati   yang  Bersih

Kita hidup di dunia ini sebenarnya bagaikan seorang pedagang. Pedagang yang cerdik tentu akan menjual barang kepada pembeli yang sanggup membayar dengan harga tinggi. Siapakah yang sanggup membeli diri kita dengan harga tinggi selain Allah? Allah-lah yang mampu membeli diri kita dengan bayaran kehidupan surga yang abadi

Mendapatkan surga Allah tentu tidaklah mudah. Tidak hanya dengan janji-janji belaka, tapi perlu direfleksi-kan  dengan ilmu dan hati yang bersih. Allah SWT., berfirman, “(Yaitu) hari di mana tidak berguna lagi harta dan anak-anak kecuali mereka yang datang menemui Allah dengan hati yang selamat (selamat dari kesyirikan dan kotoran-kotorannya).”  (Q.S. Asy-Syuara [26] : 88-89)

Syaikh As-Sa’di menjelaskan dalam tafsir Karimirahman, “hati yang selamat itu adalah hati yang selamat dari syirik dan keragu-raguan serta terbebas dari kecintaan kepada dosa atau perilaku terus menerus berkubang dalam maksiat”. Hati yang bersih inilah yang akan mendapatkan jaminan. Hati yang selalu diisi dengan ketaatan dan ketaqwaan bukan dengan maksiat dan kealpaan.

——————————————————–

Terima Kasih & Semoga Bermanfaat🙂😉😀

Wassalam🙂

empat lima empat blog

Baca juga artikel terbaru di bawah ini !