بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Assalamualaikum🙂

Sakti Sheila on 7

Sakti ketika masih menjadi personil Sheila On 7

sakti sheila on 7

Sakti yang sudah hijrah, kembali dekatkan diri kepada Allah dan berdakwah dijalan-Nya

Sakti Sheila On 7

Penampilan Sakti bersama rekannya di Sheila On 7

Alhamdulillah, Puji syukur kehadirat Allah SWT dan shalawat beriring salam kepada Rasulullah Muhammad SAW.

Hidayah sejatinya bukan ditunggu, tapi dijemput. Namun, adakalanya juga ada orang-orang yang secara tidak sengaja menemukan hidayah Allah melalui suatu momen-momen tertentu. Salah satunya yang ingin saya utarakan disini adalah tentang perjalanan Sakti mantan personil Sheila on 7 yang sekarang menjadi ustadz. Begini ceritanya:

Rasa takut akan kematian mengubah jalan hidupnya. Profesi sebagai anak band ia tinggalkan demi meraih keridhoan Allah SWT.

Sejak ia memutuskan hengkang dari grup band Sheila on Seven, ada yang berubah dari penampilan Sakti Ari Seno, 28 tahun. Termasuk cara Sakti dalam menjalani kehidupan. Bila dulu Sakti dikenal suka menggunakan pakaian kasual saat menggelar konser, kini sehari-harinya menggunakan gamis dan kopiah. Jenggot yang dulu sekedar melengkapi penampilan, kini kian lebat.

“Seperti inilah semestinya seorang Muslim berpenampilan. Mengikuti sunnah Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wassalam,” ungkap Sakti diwawancarai Suara Hidayatullah.

Menurut pria yang kini merubah namanya menjadi SALMAN AL-JUGJAWY (Salman dari Jogja) ini, ia ingin menunjukkan kepada orang-orang, bahwa pakaian gamis ini adalah tuntunan Rosulullah SAW. “Kalau tak ada yang mencontohkannya, Masyarakat hanya akan menganggap pakaian ini digunakan teroris,” katanya.

Bagaimana dengan sholatnya? Pria yang mengaku sejak kecil jarang Sholat ini menyadari kesalahannya. Kini Sholat lima waktu pun tak pernah ia tinggalkan, tentunya Sholat berjamaah di masjid.

Sehari-hari, kegiatan pria yang baru saja dikaruniai anak pertama ini adalah belajar agama dan berdakwah. Gitar yang selalu bersamanya dalam berbagai penampilan, ia tinggalkan. Ia berganti haluan mengajak orang untuk semakin dekat kepada Allah SWT. Bersama kawan-kawannya di gerakan dakwah Jamaah Tabligh, Sakti berangkat khuruj, untuk belajar dakwah di Pakistan, India dan Bangladesh pada tahun 2006.

Sepulang dari khuruj di luar negeri selama tiga bulan itu, permintaan ceramah dan mengisi kajian terus berdatangan. Tak hanya mahasiswa melalui unit kerohanian Islamnya, remaja masjid pun kerap mengundang Sakti. Dalam dakwahnya, tak jarang ia berbagi cerita tentang pengalaman rohaninya, kepada banyak kalangan.

Perubahan yang drastis ini tak lepas dari sebuah pengalaman hidup yang secara beruntun dialaminya pada tahun 2003. Saat itu, Sakti dan Eros, rekan grupnya, mewakili grup band Sheila on Seven hendak berangkat ke Malaysia untuk menerima penghargaan atas albumnya yang dinilai terbaik. “Saat menunggu keberangkatan pesawat di Bandara Soekarno-Hatta, saya melihat sebuah buku berjudul “Menjemput Sakaratul Maut bersama Rosulullah” yang dijajakan di sana, dan saya tertarik membelinya,” ujar Sakti.

Kebiasaan membaca buku membawa suami Miftahul Jannah ini semakin larut dengan bacaan barunya itu. Apalagi menurut Sakti, isi buku itu sangat menyentuh perasaanya. “Setelah membaca buku itu saya jadi takut mati. Apalagi waktu itu pesawat sering jatuh. Jangan-jangan pesawat yang saya tumpangi ini jatuh, dan saya mati.” ungkap Sakti yang menghabiskan sebagian halaman buku itu di dalam pesawat.

Ketakutannya semakin bertambah ketika pulang dari Malaysia. Dia mendapati ibunya terserang penyakit paru-paru dan harus dirawat di rumah sakit. “Saat menunggui ibu, bibi saya datang menjenguk sambil membawakan majalah berjudul “Mati Suri”. Saat saya baca, rasa takut mati itu semakin bertambah,” Kenang Sakti.

“Saking takutnya, seharian saya tidak bisa tidur,” ujarnya.

Peristiwa ini diakui Sakti sebagai titik awal dalam kehidupannya. Maka ketika ada teman yang mengajaknya mengikuti pengajian, pria yang banyak mengenyam pendidikan di sekolah kristen ini tidak menyia-nyiakan. Diikutinya pengajian itu hingga tuntas. “Habis mengikuti pengajian, hati saya kok rasanya semakin tenang. Ibarat seekor ikan yang dikembalikan lagi ke dalam air,” Jelas Sakti.

Pengembaraannya mencari hidayah tidak sampai di situ. Untuk mendapatkan Islam yang benar-benar sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, berbagai kelompok pengajian ia ikuti. Namun akhirnya ia menentukan pilihan di Jamaah Tabligh (JT). “JT tidak mengiming-imingi ke partai, tapi justru hanya mengajak untuk memperbaiki diri,” jelas Sakti. Meskipun saat ini ada suara-suara miring tentang JT, menurutnya bukan konsepnya yang salah, namun personnya.

Bagaimana dengan aktifitasnya di musik? Sakti mengakui, sejak tersentuh oleh Islam pada tahun 2003, dirinya sudah tidak tertarik lagi dengan musik. Bahkan karena sibuk mencari ilmu agama, latihan dengan grupnya semakin berkurang. Imbasnya, ketika tampil di panggung, Sakti sering salah-salah. “Sampai saya dinasihati teman-teman untuk bekerja dengan benar,” Kenang Sakti.

Keinginan untuk keluar pun semakin kuat. Namun niat itu tertahan oleh nasihat ustadznya yang menghendaki Sakti tetap di Sheila on Seven untuk mendakwahi teman-temannya agar dekat dengan agama. Sakti pun tetap bertahan di grup yang membesarkannya itu. “Di Sheila, tak ada lagi keinginan saya untuk go international, dengan target penjualan album berjuta-juta kopi. Niat saya itu hanya ingin mendakwahi teman-teman di Sheila agar tahu agama, semampu saya,” ungkap anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Sakti tak bosan mengajak teman-teman yang seluruhnya Muslim itu untuk sholat, meskipun diakuinya sebagai hal yang sulit. Ia perbaiki permainan gitarnya untuk mengambil hati teman grupnya. Namun kehidupan teman-temannya tetap tak bisa diubah juga. Sakti pun menyadari bahwa hidayah mutlak wewenang Allah. “Tapi, Alhamdulillah mereka tetap menerima keadaan saya,” ujarnya.

Dakwah internal sheila ini dijalaninya hingga tahun 2006. Di tahun yang sama Sakti mengakhiri karirnya di dunia musik. Ia memilih keluar karena merasa semakin tidak klop dengan grupnya. Apalagi, album kelima yang dirilis 2006 itu banyak bertema cinta yang sudah tidak cocok dengan hatinya. “Karena hubungan kerja sudah tidak bagus lagi, maka saya memilih mundur untuk menjaga hubungan pertemanan,” Jelas Sakti.

Meski demikian silaturahim dengan personel grup Sheila masih tetap berjalan dengan baik. Bahkan menurut Sakti, mereka masih sering saling mengunjungi. Hingga kini, pria yang menikah pada tahun 2007 ini masih tetap berfikir keras bagaimana caranya mengajak mereka untuk memahami Islam,” Minimal satu orang saja.” Ungkapnya bersemangat.

Sejak hijrah dari musik, Sakti memilih mendirikan minimarket dan laundry di kediamannya di Pandega Marta, Yogyakarta. Ia juga mendirikan industri kecil yang memproduksi sandal terompah. Contohnya ia datangkan langsung dari Malaysia.

Dengan kegiatan ini membuatnya leluasa membagi waktu untuk bisnis dan dakwah. Sakti tidak ingin lagi menekuni profesi sebagai anak band yang hanya menjadikan orang lupa kepada Allah. Mantan mahasiswa STIE YKPN ini meyakini orang yang meninggal itu sesuai dengan amal istiqomahnya. “Pembalap biasanya meninggal di lapangan balap, Begitupun dengan profesi lainnya. saya tidak mau dimatikan Allah dalam kondisi jingkrak-jingkrak di panggung,” ujar lulusan SMA De Britto, Yogyakarta ini.

Sakti yang selama ini banyak berinteraksi dengan anak muda memiliki penilaian sendiri tentang kondisi anak muda masa kini. Menurutnya, anak muda sekarang hanya kurang bimbingan, sehingga mereka terjerumus di diskotik, bar, atau tempat maksiat lainnya. “Karena realitasnya mereka tidak tahu ilmu dan iman, sehingga harus didekati dengan akhlak,” Jelas Sakti. Karena itulah bendahara masjid Nurul Iman ini mengajak untuk mendatangi sekaligus mendakwahi mereka.

(dari majalah Hidayatullah edisi 03|XXII| Juli 2008/ jumadil akhir 1429)

Sumber: http://auliarahmawati90.blogspot.com/2013/02/kisah-sakti-sheila-on-7-mendapat.html

—————————————————————————————————-

Terima Kasih & Semoga Bermanfaat🙂

Wassalam🙂

empat lima empat blog

Baca juga artikel terbaru lainnya di bawah ini !